Beliau adalah Imam al-Allamah al-Muhaddits Abu Zakaria Muhyiddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi al-Faqih Asy-Syafi’i.

Beliau merupakan salah seorang ulama besaar Islam di zamannya, dan masih menjadi teladan bagi para ulama – alih-alih kaum Muslimin pada umumnya – sampai zaman ini, dan hal itu tidak aneh, karena jalan yang ditempuh oleh Imam an-Nawawi memang layak menjadi teladan bagi masyarakat.

Beliau menduduki kursi tertinggi di bidang ilmu zuhud, wara’ , amal shalih, dan keberaniannya dalam menghadapi orang-orang umum, khusus dan para sultan. Beliau adalah orang yang zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia karena berharap apa yang di sisi Allah, maka beliau pun menjadi panutan mereka semuanya. 

Imam an-Nawawi bukanlah seorang ulama yang paling tua di zamannya, bukan pula yang paling banyak ilmunya di setiap bidang yang ditekuninya, demikian pula keadaannya dengan para ulama yang datang sesudahnya, namun Allah Subhanahuwata’ala meletakkan kecintaan kepada beliau pada haati manusia, dan menjadikan karya -karya beliau bermanfaat dan diterima. Ini merupakan urusan Allah yang tak ada campur tangan manusia padanya, ia tak bisa dipatok menurut takaran dan timbangan manusia, tapi itu adalah karunia Allah yang dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki. 

Beliau lahir tahun 631 H di sebuah desa yang bernama Nawa, salah satu desa di Hauran selatan Damaskus. Dalam usia muda,beliau datang ke Damaskus tahun 649 H, lalu tinggal di Madrasah ar-Raawahiyah kemudian di Daarul Hadits. 

Fokus kajian beliau adalah kitabullah dan syarah-syarahnya. Pada awalnya, beliau belaajar fikih menurut madzhab Imam asy-Syafi’i, dan beliau menulis beberapa buku yang bermanfaat, kemudian beliau menulis dengan berpijak kepada dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah secara langsung, melakukan studi komparatif diantara mdzhab-madzhab para ulama dan menyimpulkan pendapat yang merupakan hasil ijtihadnya dalam bukunya yang fenomenal , yang merupakan salah satu buku induk Islam, yaiut al-Majmu’. Sayangnya beliau wafat sebelum menyelesaikannya.

Diantara karya beliau adalah Raudhah ath-Thalibin, Allah telah memudahkan kami untuk mencetaknya dalam 12 jilid dengan tahqiq; Syarh Shahih Muslim, salah satu syarah terbaik; beliau juga mensyarah sebagian dari Shahih al-Bukhari; Kitab al-Asma’ wa al-Lughat yang berisi biografi dalam jumlah yang memadai informasi besar tentang makna kata ; Kitab Hilyah al-Abrar yang dikenal dengan al-Adzkaar, dalam buku ini, beliau tidak membatasi diri pada hadits-hadits shahih, sebagaimana yangbeliau beri nama al-Muqashid; at-Tibyan fi Adab Hamalah al-Qur’an; dan buku-buku lainnya yang bermanfaat. 

Beliau wafat di desanya, Nawa, th. 676 H dakam usia tidak lebih 45 tahun. Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas, memperbanyak jumlah kaum muslimin yang berkenan mengikuti manhajnya di bidang ilmu dan amal, amar ma’ruf dan nahi mungkar, serta membangkitkan kita dan mereka semuanya di bawah panji Mushthafa, Muhammad Sholallaahu wa’aalaihi wassaalam.

Pada hari ( ketika ) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali oraang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih ” ( Asy-Syu’ara’ : 88-89 )

Beirut, 20 Syawal 1398 H

Zuhair Asy-Syaawisy

Leave a Reply

%d bloggers like this: